SEJARAH MAN 2 LANGKAT

  • 09 Jan 2020

  • Posted by: Admin

  • Kategori: Profil Madrasah

  • Upload: 1 tahun 6 bulan 3 minggu 4 hari 11 jam 26 menit yang lalu

  • View: 2293

Sebagai suatu lembaga Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) yang ada di Sumatera Utara, Departemen Agama mendirikan Sekolah Guru Agama Negeri yang bernama Pendidikan Guru Agama (PGA) bertempat di kota Medan. Para siswa yang mengikuti pendidikan ini terdiri dari kelompok pria dan wanita. Mengingat pada masa itu perbauran para siswa putra dan putri masih langka dan sangat jarang maka Departemen Agama bermaksud memisahkan para siswa putra dan putri. Akhirnya diambil suatu keputusan bahwa siswa putiri dipisahkan kedaerah lain maka ditetapkan PGA Putri di tempatkan di Tanjung Pura.

Prakarsa pemindahan PGAN Putri di Tanjung Pura adalah atas inisiatif Kepala Inspeksi Pendidikan Agama Propinsi Sumatera Utara yaitu Bapak Al Ustadz H. Ibrahim Halim putra Tanjung Pura sendiri, beliau tamatan dari Al Azhar Universitas Cairo Mesir. Pada tahun 1963, mulailah siswa PGA Putri tersebut pindah (hijrah) ke Tanjung Pura dengan direkturnya adalah Bapak Jamil Rawa BA. Adapun gedung yang akan ditempati siswa PGA tersebut adalah gedung yang bernama Jamaiyah Mahmudiyah yakni suatu Pendidikan Agama yang didirikan oleh bekas Sulthan Langkat pada masa kejayaannya banyak menghasilkan para cendikiawan muslim dan ulama yang pendidikannya diteruskan ke Universitas Al Azhar Cairo atas biaya kerajaan Langkat.

Atas kemufakatan (kesepakatan) Kepala Inspeksi Pendidikan Agama dan pimpinan sekolah Jamiyah Mahmudiyah pada saat itu dipimpin oleh Bapak T. Muchtar Azis, maka PGA Putri Negeri dibenarkan dan dibolehkan menempati gedung tersebut, sebagai asrama dan tempat belajar, dengan sendirinya PGA Putri Negeri resmi berkedudukan di kota Tanjung Pura, untuk menunggu pembangunan gedung baru sebagai tempat belajar siswa PGA Putri Tanjung Pura.

Dengan adanya PGA Negeri Putri di kota Tanjung Pura seluruh masyarakat Kabupaten Langkat merasa gembira karena anak putrinya dapat diterima menjadi siswa di sekolah tersebut, otomatis dengan sendirinya pengeluaran biaya untuk mendidik anak anaknya tidak demikian besar dan mahal, terlebih bagi masyarakat kota Tanjung Pura sendiri.

Setelah pendidikan PGA Putri berjalan satu tahun dan akan menerima murid baru terjadilah suatu kesalahpahaman dari pengurus sekolah Jamaiyah Mahmudiyah yang merasa dengan adanya PGA Putri Negeri memakai gedung tersebut, pendidikan di Jamaiyah Mahmudiyah yang statusnya bersifat swasta merasa ketinggalan mengadakan reaksi dengan tidak memberikan tempat ruang belajar untuk ditempati dan seluruh ruang belajar dikunci dan digembok oleh para pengurusa dan guru sekolah Jamaiyah Mahmudiyah sehingga para siswa PGA berhari hari tidak dapat belajar walaupun pihak PGA telah meminta dengan hormat agar ruang tempat belajar dapat dipakai untuk belajar, namun para pengurus Jamaiyah Mahmudiyah dengan tidak sopan mengusir PGA Putri bahkan para pelajar Jamaiyah sampai mengadakan lemparan lemparan ke asrama atas tempat PGA Putri menginap. Atas tindakan yang diperbuat, para pelajar PGA Putri sempat mengadakan demontrasi ke kantor Asisten Wedana Kecamatan Tanjung Pura untuk menyampaikan masalah mereka, walaupun pihak Asisten Wedana Kecamatan Tanjung Pura mengadakan pertemuan dengan pihak pengurus Jamaiyah Mahmudiyah, namun pihak pengurus Jamaiyah tidak memperdulikan dan tetap mengusir PGA Putri Tanjung Pura supaya pindah dari gedung Jamaiyah Mahmudiyah tersebut.

Melihat kondisi keadaan PGA Putri semakin parah maka atas Bapak Al Ustadz H. Ibrahim Halim dalam tempo 2 minggu dibangunlah tempat ruang belajar diatas sebidang tanah dijalan Kampung Dalam yang diperbuat dari papan dan atap rumbia bertiangkan kayu nibung sebanyak 3 ruangan maka dengan rasa terharu para siswa PGA Putri belajar ditempat tersebut selama satu tahun

Melihat keadaan tersebut pemilik yayasan yang bernama YPII yang dipimpin oleh Ummi Khadijah anak Al Ustadz Syekh. H. Abdurrahim Abdullah dengan rela memberikan keizinan kepada siswa PGA Putri Negeri Tanjung Pura untuk tempat belajar disekolah tersebut berhubung karena ruang belajarnya sangat kecil dan dipergunakan pagi sore sehingga para guru yang mendidik tidak ada waktu istirahat.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kabupaten Langkat sebelum kemerdekaan RI adalah sebuah kerajaan dan mempunyai dua buah istana yang megah dan sebuah rumah gedung bertingkat, dua sebagai rumah kediamanan Sulthan Langkat dan Sulthan yang terakhir bernama Sulthan Mahmud Abdul Jalil Rahmadsyah. Setelah Indonesia merdeka Sulthan Mahmud mengakui kemerdekaan Indonesia dan bendera merah puth tetap berkibar di istana Sulthan, dan akhirnya kerajaan sultan Langkat di rampas oleh PKI yang dipimpin oleh Laskar Merah, dan membumi hanguskan gedung kerajaan Langkat.

Dengan sendirinya gedung bekas perumahan istana sulthan Langkat tersebut dijadikan menjadi gedung sekolah PGA Negeri Tanjung Pura. Dengan sendirinya PGA Negeri Tanjung Pura telah mempunyai asrama dan gedung sekolah sehingga para siswa PGA Negeri Tanjung Pura telah mulai merasa ketenangan didalam belajar dan sebagai kepala sekolahnya dipimpim oleh Ibu Hj. Zubaidah Ahmad.

Pada bulan Februari tahun 1967 pemerintah daerah kabupaten Langkat menyampaikan surat ke PGA Negeri Tanjung Pura bahwa Panglima Kowilhan Bapak Jenderal Mokoginta akan berkunjung ke Tanjung Pura dalam rangka peresmian pusara pahlawan Tengku Amir Hamzah di mesjid Azizi Tanjung pura dan akan beristirahat di gedung PGA Putri Tanjung Pura dan sekaligus untuk meninjau ruang belajar PGA Putri Tanjung Pura (bekas perumahan sulthan Langkat tersebut).

PGA Putri Negeri Tanjung Pura berdiri pada tahun 1963 dan berakhir pada tahun 1969. Kemudian pada tahun 1970 PGA Putri Negeri Tanjung Pura berubah menjadi PGA Negeri Tanjung Pura, dimana para pelajarnya tidak hanya khusus putri saja melainkan pelajar putrapun turut serta. PGA Negeri Tanjung Pura berakhir sampai tahun 1990 Setelah itu bentuk pendidikan PGA Negeri Tanjung Pura berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN 2) Tanjung Pura pada tahun 1991 sampai sekarang. Para pelajarnya tidak untuk putri saja tetapi telah berbaur dengan putra sampai saat ini.